on media



TV3 malaysia : ampang jazz june malaysia 2011
http://guitarcomm.wordpress.com/on-media/ GCI bali July 2011
hotchord magazine (lesson/klinik workshop by puguh kribo tiap edisi 2009-2012)
gitarplus magazine 3 kali rubrik konstribusi 

musiclive magazine 



Malaysia International Music Expo 2011 (MIME)
Puguh Kribo Sajikan Workshop Music di MalaysiaJakarta, 17 Desember 2011
Kuala Lumpur-Malaysia, pada tanggal 12-15 September lalu, Puguh Kribo mendapat undangan khusus dari Malaysia International Music Expo 2011 (MIME). MIME 2011 merupakan Pameran tertinggi untuk Institution Musical Instrument Retailers dan Studio Recording di Malaysia.

Berbagai produk instrument, alat musik, teknologi recording dan inovasi lightingdengan harga khusus dipamerkan pada MIME 2011 ini. Tidak hanya pameran produk, MIME 2011 juga berusaha mengembangkan pendidikan musik di brands dan institutions. Salah satunya dengan mengadakan berbagai workshop yang mengundang beberapa musisi tamu dan pembicara, baik dari Malaysia maupun luar Malaysia. Seperti Workshop Jazz Piano dari USA, Prof. Razif MCommunity & Industri Music Departemen yang menampilkan improvisation-out the box asal Malaysia, Klinik Gitar asal Indonesia tentang cara bermain speed pickingpenerapan dari buku Extreme Speed Picking, dan Album Black Kraken dari The Tritorium, Annie Armen Drummer, Perkusi, Communications artis asal USA, Latin Perkusi by Steve Thornton, Music Talk by Mr.Paul Baker, penampilan artis Field Players, Ferhad & Daymien. Dan tidak ketinggalan workshop dari Puguh Kribo sendiri.

Pada hari terakhir, Puguh Kribo yang resmi di-endorse oleh Rick Hanes Guitars Internasional, didaulat untuk menutup MIME 2011. Puguh Kribo (lead gitar) tampil bertiga, bersama Annie Armen (drum), dan Rizlan (bass). Mereka menampilkan 3 komposisi The Kribo, Nemranie (Latin song), Attack (Latin rock). Acara MIME 2011 dihadiri kurang lebih 800, baik dari kalangan musisi, maupun umum dan kebanyakan berusia muda.



























mlive magazine
youtube online
myspace
http://www.likethisentertainment.com/soundcheck/puguh-kribo-ingin-duet-sama-ian-antono/


" Ini just a guitar ! " - Dari panggung Jakarta Guitar Festival 2012

Kamis, 28 Juni 2012
Jakarta Guitar Festival 2012, sebuah event perhelatan para gitaris yang diadakan oleh Halo Entertainment di GOR Rawamangun Sabtu 23 Juni 2012. Acara ini menampilkan sederet performer yang asik disimak. Pertunjukan sendiri dibagi menjadi dua bagian. Pada siang hingg sore hari, pertunjukan menampilkan para musisi muda. Sedangkan malam hari setelah break, pertunjukan menampilkan para gitaris-gitaris senior.

Musisi-musisi muda yang tampil pada siang hingga sore hari itu adalah musisi-musisi muda yang berbakat. Melihat penampilan mereka, ada harapan besar bagi masa depan musik tanah air. Salah satu penampil adalah gitaris solo JJ Petrucci. Gitaris bertubuh mungil ini memiliki talenta yang sangat besar. Jari-jemarinya begitu piawai memainkan nada. Permainannya begitu mulus dan enak disimak.

BlitzKrieg adalah sebuah band beraliran progresive metal yang dimotori oleh Fritz sang gitaris. Band ini cukup pede membawakan komposisi buatan mereka sendiri. Penampilan mereka sangat kompak dengan komposisi yang juga cukup apik. Melihat skill para personilnya, serta komposisi yang mereka ciptakan, ada harapan besar bagi BlitzKrieg untuk malang melintang di dunia musik tanah air.

Yang juga mencuri perhatian adalah Novy alias Novy Rock, sang vokalis Blitz Krieg. Suaranya begitu pas membawakan komposisi milik Blitz Krieg yang beralian progresif, penuh perubahan serta lengkingan nada-nada tinggi. Novy membawakan semua komposisi dengan nyaris tanpa cela. Malam itu Novy juga menjadi vokalis bagi Eet Sjahranie. Novy juga merupakan vokalis dari band Voodoo.

Suasana makin meriah saat para gitaris-gitaris senior mulai tampil setelah break. Dibuka oleh penampilan garang dari Pupun. Permainan Pupun yang garang didukung sound yang garang pula, memang sangat pas untuk memanaskan suasana. Pupun menampilkan komposisi yang menarik, mengkombinasikan elemen tradisional dengan petikan rock yang garang. Penampilan Pupun ditutup dengan permainan gitar 8 string. Pupun memainkan senar rendah bagaikan mencabik bas bahkan juga slap.

Penampil malam itu didominasi oleh gitaris-gitaris rock yang menampilkan permainan cepat ala speed metal dengan sentuhan neo-classic. Puguh Kribo salah satunya. Tampil dengan sound yang garang, pejal dan tight-bottom, Puguh menyajikan komposisi dan atraksi yang menarik. Selain bermain dengan petikan cepat, Puguh juga menunjukkan keahliannya dalam teknik two handed tapping hingga bermain menggunakan double gitar, dimana Puguh dapat bermain hampir sama baik dengan tangan kiri maupun kanan.

Yang menarik adalah saat Puguh menampilkan atraksi membanting gitar seraya berkata “ini just a guitar!!”. Gitar hanyalah benda mati yang menjadi alat untuk bermusik bagi gitaris. Yang paling penting adalah ‘man behind the guitar’ alias sang gitaris itu sendiri. Sang gitaris lah yang menghasilkan nada-nada dan sound melalui petikan dan permainan jari jemarinya pada gitar.

Selain Puguh, Andy Owen dan Firman Al Hakim juga menampilkan permainan cepat dengan sentuhan neo classic. Andy Owen sempat menampilkan komposisi memadukan musik dance dengan petikan rock-nya. Sedangkan Firman Al Hakim, yang memulai karirnya sebagai gitaris cover Yngwie, beraksi menggunakan gitar 8 senar. Baik Firman, Andy Owen, dan juga Puguh menunjukkan kelas mereka sebagai guitar shredder papan atas saat ini. Dari segi sound maupun petikan cepat mereka sajikan dengan mulus nyaris tanpa cela.

Selain para rocker, Jakarta Guitar Festival juga menampilkan gitaris dari aliran lain. Adrian Adioetomo adalah seorang gitaris blues yang tampil malam itu. Adrian tampil unik dengan “resonator guitar”-nya dan dengan permainan ala delta blues yang mengkombinasikan petikan dengan teknik slide. Penonton kemudian diajak mendengarkan cerita-cerita dalam komposisi blues yang disampaikan melalui permainan gitar dan vokal Adrian diselingi celotehan-celotehan khasnya. Adrian mampu menampilkan musik yang begitu penuh dan begitu bercerita dengan hanya berbekal sebuah gitar dan pedal yang men-trigger kick saja.

Jubing Kristianto juga tampil tunggal dengan gitar akustik senar nilon. Jubing menampilkan lagu-lagu seperti “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Ayam Den Lapeh”, dan “Becak”, yang sudah digubah dengan aransemen musik klasik yang begitu kaya. Jubing memainkan gitarnya bagaikan sebuah konser musik klasik. Begitu penuh, begitu kaya, begitu bercerita dan begitu memikat. Jubing mengakhiri penampilannya dengan lagu tema (theme song) film “Mission Impossible”.

Perwakilan dari musik Jazz/Fusion adalah Beben dan Dony Suhendra. Beben sang pendiri Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) tampil dengan nomor-nomor standar seperti ‘Blue Bossas’, ‘Just Friends’, ‘Summer Time’, dan ‘Route 66’. Beben juga memberikan kesempatan pada para personil band-nya untuk berimprovisasi menunjukkan skill mereka. Pada malam itu, Beben juga ditemani oleh istrinya Inna Kamarie yang bernyanyi di dua lagu terakhir.

Oom Dony Suhendra, sang jago tua, menunjukkan dirinya belum lah memudar. Baik teknik petikan maupun pilihan nada-nadanya masih belum bisa dikalahkan oleh para gitaris muda. Oom Dony tampil membawakan komposisi-komposisi beraliran fusion jazz dengan begitu smooth. Seperti juga Beben, oom Dony juga memberikan kesempatan pada personil band-nya untuk menunjukkan skill mereka masing-masing. Yang menarik adalah sang drummer yang bermain begitu rancak seolah-olah memiliki lebih dari sepasang tangan. Malam itu oom Dony juga ditemani oleh Adhi Darmawan, seorang basis kawakan di kalangan para jazzer.

Penonton kemudian dibuat terpana oleh penampilan Balawan. Balawan bagaikan memiliki “jari-jari ajaib”. Setiap sentuhan maupun petikan pada gitarnya mampu menghasilkan rangkaian nada-nada yang fantastis, seolah mengajak penonton untuk masuk dalam petualangan di suatu dunia fantasi. Balawan menampilkan teknik two handed tapping-nya dengan begitu menawan. Tapi seorang Balawan bukan hanya menguasai tapping. Balawan juga piawai dalam teknik-teknik petikan, bending, hingga sweeping. Bagi seorang Balawan, gitar merupakan alat bantu dalam mengekspresikan musiknya. Gitar menjadi alat untuk menghasilkan nada-nada lincah dan melodius hingga nada-nada perkusif.

Penampil terakhir adalah Eet Sjahranie. Gitaris rock gaek ini memang pantas menyandang predikat sebagai salah satu legenda gitar Indonesia. Tampil membuka dengan komposisi instrumental “Evolusi” yang disambung dengan “Opus #1” (ringkik Turangga). Dalam komposisi tsb, Eet tidak mengumbar teknik-teknik. Tapi nada-nada yang dihasilkan olehnya begitu dalam. Ditambah lagi sound yang ciamik, komposisi tersebut menjadi terasa begitu “epic”. Eet kemudian membawakan sebuah lagi klasik dari Van Halen yaitu “Panama”. Kembali lagi Eet menunjukkan kelasnya sebagai gitaris rock papan atas tanah air. Lagu ini menjadi begitu hidup, begitu bersemangat. Didukung pula oleh vokal Novy Rock yang mantab bertenaga.

Acara ditutup dengan jamming hampir semua gitaris yang tampil, yaitu Pupun, Puguh Kribo, Andy Owen, Firman Al Hakim, Adrian Adioetomo, Jubing, Balawan dan Eet Sjahranie. Unik ketika berbagai gitaris dengan gaya dan aliran yang berbeda-beda tampil bersama. Mereka membawakan sebuah lagu klasik Deep Purple yaitu “Smoke On The Water”. Sayang perwakilan dari jazz/fusion yaitu Beben dan Oom Dony Suhendra tidak ikutan. Namun demikian jamming di pamungkas acara ini tetap memberikan kesan yang mendalam. Masing-masing gitaris berimprovisasi sesuai gaya permainannya masing-masing. Jubing dan Adrian Adioetomo pun tidak kalah garang walaupun mereka berdua menggunakan gitar akustik, sementara yang lain gitar elektrik lengkap dengan distorsi. Sebuah jamming yang tidak saja menarik tapi juga unik dan menjadi klimaks untuk acara Jakarta Guitar Festival 2012

(noviari)

Penulis : Administrator - KamarMusikdotcom